LAYANAN SUPRANATURAL SONGGO BUWONO

__________________________________________________________
Bagi anda yang mempunyai permasalah pribadi /keluarga, Kami siap membantu kesulitan yang anda hadapi.
Sukses dalam Bussiness, Karier / Jabatan, Pangkat, Pengasihan Tingkat Tinggi, Enteng Jodoh, Rejeki, Ruwatan, Bedah Aura Diri/ Anak, Kewibawaan, Gangguan Ghaib. Dll.
Hot Line Service: 081227272345 - 08125999929

Email: bunda_lia_herminputri@yahoo.co.id
songgo_buwono@yahoo.co.id
__________________________________________________________

PRESS RELEASE

________________________________

27 January 2009

Dosa Kok Diperjual-belikan

Press Release
Bunda Lia Hermin Putri
Hp.08125999929




Syukur Alhamdullillah, Allah telah memberikan kita negeri yang subur.
Negeri agraris yang sempat membuat bangsa-bangsa lain menjadi iri akan alam yang gemah ripah loh jinawi ini.
Namun perlu dicermati, suburnya alam kita, kayanya alam kita juga telah menina bobokan kita.
Pada akhirnya muncul kenistaan kita terhadap sang Khaliq.
Saya menganggap ini suatu kenistaan, karena kita tak mau mengelola apa yang telah diberikan Allah kepada kita. Kita juga tak dapat merawatnya dengan baik.
Hingga bangsa ini-pun kedepan bakal mati kelaparan di lumbung padi…. Inilah bentuk kenistaan yang kami maksud.
Kita juga hanya berkecap bangga, namun kita tidak mau berjuang untuk merumat apa yang telah diberikan-Nya.
Astaghfirullah…. Ma’afkanlah dosa dan kesalahan kami Ya Allah.
Ikqra….. – Bacalah --. Demikian Allah memberikan wahyu pertamanya Kepada Rosullulah SAW.
Ini jelas pula maksud yang terkandung di dalam kalimat tersebut. Kita harus jeli membaca alam, kita harus jeli membaca situasi, kita juga harus jeli membaca potensi yang ada di diri kita, dilingkungan kita, di Negri kita, bahkan di seluruh jagad raya ini.
Memang hal ini tidak mudah dilakukan.
Butuh pembelajaran, butuh ketelatenan untuk membaca apa yang telah diperlihatkan-Nya oleh Allah SWT…….

Demikian pula di saat sekarang ini, dimana negeri kita mengalami krisis kepemimpinan. Sebagai masyarakat, warga Negara Indonesia yang bertanggung jawab atas nasib bangsa kedepan, kita harus jeli pula dalam memilih seorang pemimpin.
Karena secara demokrasi, Rakyat menjadi penentu atas siapa yang akan dijadikan sebagai pemimpinnya.
Namun secara filosofis, bukan hanya kemenangan demokrasi yang akan menempatkan manusia menjadi seorang pemimpin.
Butuh beberapa faktor lain yang harus dimiliki agar seseorang bisa menjadi pemimpin sejati.

Jika seorang pemimpin merasa lahir hanya karena kemenangan secara demokrasi, niscaya akan tumbuh pula keangkaramurkaan pada dirinya.
Dia akan melebihi Raja yang dictator, Raja yang otoriter dan merasa memiliki kekuasan yang absolut, tanpa memikirkan hak rakyatnya.
Disinilah dibutuhkan kejelian masyarakat dalam memilih seorang pemimpin. Jangan sampai kita terjebak oleh janji-janji manis tanpa bukti, jangan pula kita dapat disogok hanya untuk mengangkat “derajat” mereka, yang kemudian jika dia telah menduduki kursi kekuasaan, malah menginjak-injak kita. Dan menambah dosa… sebab apa? Dosa di Negara ini sudah diperjual belikan.
Ini karena dia merasa kekuasaan yang didapat merupakan ‘barang dagangan’ yang sudah dibelinya dari rakyat dengan bayaran uang sogokan yang tidak seberapa, serta ucapan janji-janji busuk saat kampanye.
Sungguh itu merupakan perbuatan yang dzolim.

Fiman Allah SWT dalam Al Qur’an surat : Al a’raf ayat :129

Qalu uzina min qabli an ta’tiyana wa mim ba’di ma ja’tana, qala ‘asa rabbukum ay-yuhlika’aduwwa kum wa yastakhlifakun fil –ardi fa yanzura kaifa ta’malun.

Artinya :
Kaum Musa berkata : “ Kami telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu dating kepada kami dan sesudah kamu datang” Musa menjawab : “ Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu Khalifah di bumi (NYA) maka Allah SWT akan melihat bagaimana perbuatanmu.

Allah SWT tidak menyukai pemimpin yang Dzolim, yang menyengsarakan rakyatnya. Jika terjadi hal demikian, bukan hanya sang pemimimpin tadi yang dzolim, kita juga termasuk orang-orang yang telah menzolimi diri kita sendiri, sebab kita telah memilih pemimpin hanya karena uang sogokan, bukan karena sikap, sifat, serta segala kebaikan yang tercermin pada calon pemimpin yang akan kita pilih. “Ingat….. salah pilih akan berakibat fatal…”

Yang menjijikan lagi…, setelah dia terpilih menjadi pemimpin, dia hanya merasa kalau kepemimpinannya itu hanyalah hasil dari demokrasi yang diciptakan manusia. --- “Saya ada di kursi kepemimpinan ini lantaran dipilih oleh rakyat” --- katanya. Hanya itu yang menjadi kebanggaan atas kemenangannya. Dia lupa…., kalau setiap pemimpin kaum, golongan apalagi pemimpin bangsa, adalah Rahmat sekaligus cobaan besar yang diberikan Allah kepadanya.
Sementara demokrasi hanyalah sebagai lantaran atau jalan untuk menuju ke arah itu.

Firman Allah SWT: Surat : Shaad, Ayat 26

Ya Dawudu inna ja’alnaka khalifatan fil-ardi fahkum bainan-nasi bil-haqqi wala tattabi’il- hawa fa yudillaka ‘an sabillillah, innallazina yadilluna bima nasu yaumal- hisab.

Artinya :
Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu Khalifah (Penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (Perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengukuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah SWT. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Al;lah SWT akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.

Maka mari kita pilih pemimpin yang benar, gunakan nurani kita diatas akal kita. Pilihlah pemimpin yang memiliki tutur - sembur – uwur agar dapat menjadi pemimpin yang adil bagi rakyatnya, yang mengerti akan kebutuhan rakyat kecil, bukanlah pemimpin yang hanya mementingkan diri sendiri dan kelompok saja.

Saudara-saudaraku sekalian……. Mari kita merenung, berdo’a, serta ber-introspeksi diri, apa yang harus kita lakukan untuk melangkah kedepan agar bangsa ini terbebas dari penjajahan nuraniah, agar kita lolos dari kepemerintahan yang sewenang-wenang, agar kita tak mati di lumbung padi.

Jelas ini menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama.
Sekali lagi saya katakan. ……… kita harus berani bersikap dalam menentukan siapa yang patut menjadi pemimpin Bangsa ini atau daerah sekalipun.
Kita harus tulus ikhlas memohon kepada Allah, agar Allah memberikan kepada kita petunjuk seorang pemimpin yang Jujur berkeadilan, pemimpin yang tegas bermartabat.
Pemimpin yang benar-benar berjiwa kepemimpinan.
Bukan hanya pemimpin yang lahir karena demokrasi di luar kandungan Ibu Pertiwi. Subahanallah…. Hanya Engkau yang maha tahu atas apa yang kami butuhkan. Ya Allah …………

Sudah menjadi kelemahan manusia memang, ketika telah diberikan rahmatan…, tamak, serakah serta kelalaian lainnya akan mengikuti.
Lagi-lagi kita harus mengingat kata “Iqra” – Bacalah –
Kita harus bisa membaca dan merasakan apa yang telah diberikan Allah SWT kepada kita.
Jika kita berani dan mau membaca, kemudian merasakan apa yang telah diberikan, maka rasa tamak, serakah, serta hal lain yang membuat kita merugi akan terlupakan.
Yang ada hanya rasa syukur, sabar serta berusaha untuk menjadi lebih baik.
Dalam Falsafah jawa mengatakan “Mulat Sariro Hangroso Wani”. Secara harfiah yang artinya “ Sebagai hamba Allah kita harus selalu ber- Intropeksi diri, mawas diri supaya kita tidak tergelincir dijalan yang sesat”

Ini….., hal ini yang harus dijadikan kata kunci bagi kita.
Terlebih bagi seorang pemimpin yang jelas-jelas memikul nasib orang banyak.
Introspeksi diri merupakan benteng kukuh yang bisa menyelamatkan segalanya.

Berbicara tentang sosok kepemimpinan, saya jadi ingat seorang pemimpin besar Jenderal Sudirman.
Berlatar belakang seorang guru, Pak Dirman juga mampu bersikap sebagai ‘Tentara Perkasa” yang memiliki komitmen atas nasib bangsa ke depan. Walau kala itu beliu dalam kondisi sakit, namun tetap memimpin perang di medan laga tidak perduli mesti di tandu.
Hal ini bisa dijadikan sebagai inspirasi dan dan contoh kita betapa mulianya jasa dan penjuangan Jendral Sudirman.
Semangat kebangsaan Pak Dirman sebagai pemimpin tak surut oleh apapun.
Kemerdekaan bangsa ini tetap menjadi perioritas utama ketimbang kesehatan dirinya sendiri. Hanya ada satu tujuan, yakni menuju Bangsa Indonesia Merdeka, lepas dari segala macam bentuk penjajahan.
Baik bentuk penjajahan per-ekonomian, penjajahan nurani maupun aqidah.
Tetapi apa yang kita jumpai sekarang ini - apa???

Yang menjadi pertanyaan mengapa Orang Islam tidak dapat bersatu?
Agaknya di tahun 2009, bumi pertiwi masih dirundung malang.
Bencana demi bencana masih dialaminya.
Selain dampak dari pemanasan global, faktor moralitas juga mendominasi terjadinya petaka.
Berkaitan dengan pemanasan global, masyarakat dunia telah mencapai kesepakatan (walau belum memuaskan), dimana negara maju sepakat akan memberikan kompensasi atas dampak teknologi yang berpengaruh buruk terhadap kondisi alam semesta.
Nilai kompensasi yang kurang memadai ini juga akan bertambah sia-sia jika penggunaannya tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Lepas dari bencana alam, tingkat moralitas yang rendah juga akan menyeret bangsa ini ke sisi yang gelap. Wilayah Indonesia Bagian Timur akan digerogoti dengan gejolak masyarakat yang kian dahsat.
Demo besar-besaran bakal terjadi di wilayah itu. Demonstrasi terjadi dikarenakan kekuatan isu politik yang dihembuskan pihak ketiga yang sengaja ingin menciptakan suasana keruh di Indonesia Bagian Timur.
Yang lebih mengerikan lagi, Agama masih dijadikan komoditi unggulan pihak ketiga dalam upaya memecah belah bangsa ini. Kali ini upaya pemecah belahan Agama Islam gencar dilakukan.

Gerakan-gerakan tersebut mendiaspora di mana-mana.
73 golongan akan ‘diadu’ dan ego-nya dipancing mengakui bahwa golongannya adalah aliran yang benar dan terbaik.
Kemudian mereka menuding kelompok lain sebagai aliran sesat.
Berkaitan dengan hal tersebut, saya berpendapat, Islam yang benar adalah Islam yang tidak mau di pecah belahkan.
Jangan terpancing atas isu pemecah belahan tersebut.
Kendalikan emosi serta hilangkan sifat ego kelompok atau golongan.

Jelas, permasalahan ini berkait erat dengan tingkat keimanan kita kepada sang khalik. Apapun golongan atau alirannya, Islam telah memiliki aqidah baku dan berinti kepada cinta kasih kepada sesama, serta mengakui akan ke-Esaan Allah SWT.
Maka mari kita cari seorang pemimpin yang dapat menjadi panutan yang dapat menjadi Imam yang baik bagi kita semua, bagi anak cucu kita dan tunas-tunas Bangsa nantinya. Seperti pepatah Jawa mengatakan
Ing ngarso sung tulodho ( pimpinan itu apa bila didepan harus dapat memberi contoh )
ing madyo mangun karso ( bila sedang ditengah membangun semangat dan dapat menjadi penengah )
tut wuri handayani ( apa bila dibelakang memberi dukungan dan dapat mendorong semangat untuk kedepan ) ini sangat berarti bagi kita tapi kenapa Pemimpin sekarang lain tidak seperti ajaran dan pesan atau kalimat ki Hajar Dewantoro ?
Beda halnya dengan isu kedaerahan serta pemecah belahan Islam, lembaga hukum di Indonesia justeru ‘memilih jalan gelap’ dimana para penegak hukum semakin melemah dalam menyangga hukum yang berlaku.

Saya menitik beratkan kepada Lembaga Hukum.
Lembaga hukum bakal mendapat cobaan yang demikian berat. Disamping ancaman dari luar, tingkat kolusi yang tinggi juga akan mempengaruhi jejegnya naluri keadilan bagi para pelaku hukum di lembaga tersebut.
Saya yakin, mereka yang sekarang duduk dan memiliki kedudukan adalah orang-orang terpilih dan pinilih yang betul-betul paham dengan tugas dan kewajiban yang diembannya.
Tapi saya masih meragukan, apakah mereka benar-benar teguh dalam pendiriannya jika terjadi ancaman atau mungkin sogokan yang akan diberikan kepadanya.
Allahu alam.... Kelak tampak dari mata batin kita yang duduk akan ketauan tidak menepati janji dan akan kehilangan kekuasaan dan kewibawaannya, banyak pangkat dan kedudukan lepas tanpa sebab.

Ingat....... lemahnya peradilan bukan merupakan siksaan dari Tuhan, melainkan lemahnya manusia atas tanggung jawabnya sebagai mahluk sosial yang bergantung kepada hukum.
Garong makin merong - rong, rampok makin merajalela, pengayom memfitnah yang diasuh, penjaga mencuri yang dijaga, penjamin malah minta dijamin, karena menjadi korban orang jahat dan jahil, orang kecilpun semakin terkucil.
Tidak hanya para petinggi, atau praktisi hukum saja yang berperan untuk menegakkan hukum di negeri ini. Semua lapisan masyarakat harus tunduk kepada hukum.
Jika tidak, maka dia akan terhukum.
Banyak janji yang diingkari, banyak orang melanggar sumpahnya sendiri, manusia senang menipu tidak melaksanakan hukum Allah SWT barang jahat dipuja dan dimenangkan, barang suci dibenci dan dihakimi tanpa peduli membawa ke jeruji.
Telah kita ketahui, di Indonesia di mana negara ini adalah negara hukum yang berdasarkan atas Ketuhanan yang Mahe Esa.
Hukum yang dibuat jelas berlandaskan atas ketuhanan, bukan kekuasaan.
Jadi hukum positip yang di buat oleh manusia tadi merupakan implementasi dari hukum Tuhan.
Dengan kata lain, jika kita tidak mengindahkan hukum positip, atau memutar balikkan hukum positip, berarti kita telah meremehkan Hukum Tuhan.
Manusia sudah lupa dengan asal-usulnya.
Sering kali kita dengar peristiwa ‘permainan hukum’ terjadi di negeri ini.
Maka tak heran jika bencana terus melanda negeri ini. Tuhan murka, karena manusia tak taat lagi terhadap norma / hukum yang mengaturnya.

Banyaknya penyelewengan hukum akhirnya menjadi karma buruk bagi bangsa ini.
Dan kita menerima imbas karma tersebut padahal kita selalu berhati-hati dalam langkah kita. Selalu ingat sebab dan akibat bila melangkah.
Maka mari kita benar-benar memilih..... jangan sampai keliru dengan pemimpin-pemimpin palsu yang menyamar.
Kasihan saudara kita di daerah, didesa maupun dikota, makanya kita teliti bagaimana calon pemimpin yang akan kita usung ?
Namun, masih ada sisa waktu kita untuk merenung dan mencari jalan pulang untuk kembali kepada-Nya. Saya lebih cenderung, agar kita segera kembali kepada fitrah kita sebagai manusia, mahluk sempurna yang berkewajiban melindungi dan menjaga apa yang telah diberikan-Nya kepada kita.
Allah SWT Maha segalanya.
Doa kita semoga segera muncul seorang tokoh pilihan yang sudah digembleng dari tanah Jawa, guna berbekal kekuatan eksekutif, legislatif dan yudikatif.
Seorang tokoh itu yang dapat membelah pulau Jawa ( Bumi Pertiwi ) ini menjadi dua.
Maaf bukan berarti tanah jawa akan terbelah dua tetapi terpisah oleh dua golongan yaitu Jahat dan Lurus.
Yang luruslah yang dipimpin, rakyat bersatu padu dalam hukum yang adil jujur dan bijaksana memutuskan perkara ( inilah saat yang disebut Ratu Adil) rakyat bersuka ria karena keadilan dari YME, akan muncul Seorang Pemimpin baru dan dapat memimpin Bangsa ini kedepan.

Sekarang yang kita lihat dan kita jumpai adalah
Banyak laknat banyak pengkhianat, anak berani pada orang tua, saudara saling membunuh, guru saling bersateru dan adu kekuatan, dimana-mana banyak yang melampiaskan amarah.
Harta akan menjadi penyebab, pangkat akan menjadi pemikat, yang wenang akan menjadi sewenang-wenang dan merasa paling hebat, yang kalah dan mengalah semua merasa bersalah.
Yang berhati suci dibenci yang jahat penjilat malah mendapat pangkat yang mencuri hanya duduk dan dapat upeti.
Setelah melihat ini semua apa yang mampu kita lakukan ???
Hanya berserah diri pada Allah SWT dan menata rasa dan hati kita agar kembali ke Fitrah kita sebagai makluk sempurna yaitu manusia.

Semoga kedepan kita dapat lebih banyak berbuat untuk negeri ini, negri yang diberikan kesuburan dan kemakmuran oleh Allah SWT, Amin.
Akhir kata, apa bila ucapan atau perkataan saya menyinggung atau tidak berkenan dihati tidak mengurangi rasa hormat saya sedikitpun mohon maaf sebesar-besarnya, karena kami masih harus banyak belajar dan menerima usulan dari panjenengan semua demikian kami hanya bisa mengucapkan ini dengan penuh harap pada rasa kebersamaan dan kepedulian kita.

Prediksi Masa Depan Indonesia Menyingkap Takbir Keghaiban Kasekten untuk Kepemimpinan


Press Release
Bunda Lia Hermin Putri
Sanggar Supranatural “Songgo Buwono"
Yogyakarta.
Kasekten untuk kepemimpinan




Kekuasaan dalam budaya Jawa yang terangkum dalam istilah Kasekten.
Contoh apa bila kesaktian Raja masih Jaya, seluruh tatanan kosmin berputar secara teratur mengelilinginya. Tetapi disayangkan Kasekten Raja sekarang telah memudar, alampun turut terkena dampaknya, keteraturan alam dan masyarakat juga ikut kendor, dampaknya berbagai bencana alam serta gejolak sosial.

Kesaktian penguasa akan tetap berada dalam kejayaannya selama ia mengikuti etika – kekuasaan, dengan menjalankan kekuasaan tersebut demi kepentingan seluruh alam.
Namun bila penguasa telah terjangkiti pamrih, kehendak untuk memanfaatkan kekuasaan demi kepentingan sendiri, keluarga atau pihak-pihak tertentu, kesaktianya akan luntur.

Lazimnya para penguasa yang mulai merosot kekuasaannya, ditandai bergolaknya alam dan masyarakat, dan berlindung berbagai simbul dan slogan dari nilai-nilai luhur budaya Bangsa yang menjadi idiom bersama masyarakat.
Penyelesaian ini, meski relatif dapat meredam gejolak sosial, tidak mampu berbuat banyak terhadap bencana yang bersifat alami.

Apakah yang harus dilakukan jika kutukan zaman datang seperti yang kita alami sekarang ini? Meskipun ia mampu mengungkapkan berbagai kejadian yang mengindikasikan datangnya kutukan zaman, namun tidak memberikan suatu jalan penyelesaian yang konklusif.
Maka apakah kita tidak segera Eling, Waspada, dan Sabar.

Sikap Eling adalah selalu ingat akan jati dirinya adalah mahkluk spiritual, dan mendorong untuk selalu berpegang kepada spiritualitas yang tidak lain adalah inti dirinya yang terdalam. Sikap Waspada mengingatkan dorongan nafsu kearah tepi lingkaran eksistensi selalu ada disetiap sudut kehidupan sehingga kewaspadaan wajib dijaga. Sedang Sikap Sabar mendorong manusia untuk menghayati sikap kewaspadaan untuk dapat menanggulangi bahaya nafsu diperlukan pengorbanan, karena kejahatan tidak cukup dengan niat baik. Menyingkap tabir kegaiban suatu tanda gerak jaman yang penuh bahaya – kesusahan bagai utusan TUHAN yang mengabarkan datangnya penderitaan ke bumi.
Maratabat Negara tampak tetapi tanpa rupa, rusak tercambik-cambik. Hukum dan aturan diinjak-injak tidak ada lagi teladan yang bijak.
Matahari kehidupan bangsa Indonesia seakan hampir padam dunia kini telah penuh bencana. Ditambah kebodohan akal disaat tergoleknya Mantan Presiden Soeharto yang waktu itu beberapa hari berbaring di RS Pertamina, ditengok oleh berbagai kalangan baik pejabat, pengusaha, spiritual dan masih ada yang lain yang ingin tau keadaan Bpk. Soeharto waktu itu. Namun semua yang membesok konon ingin diwarisi Kasekten / Wahyu / sesuatu yang ada pada diri Bapak Soeharto, aneh memang kedengaranya karena yang namanya Wahyu itu tidak perlu di kejar atau diburu kalau memang seseorang dikehendaki oleh Allah dan Alam wahyu pasti akan datang pada orang tersebut dengan sendirinya.

Telah kita ketahui di Era sekarang ini masyarakat lebih cenderung kepada pola kehidupan modern yang mengedepankan Demokrasi ala barat. Dimana sesungguhnya, Demokrasi kita yang kita jalankan sekarang ini merupakan asupan dari kultur luar. Sesungguhnya Indonesia memiliki pola Demokrasi sendiri yakni dengan pola Musyawarah Untuk Mencapai Mufakat, musyawarah telah tercantum pada Pancasila tetapi dalam beberapa decade setelah lengsernya Pak Harto Pancasila tidak lagi tampak apalagi Budaya kita. Demokrasi yang ada sekarang ini merupakan Demokrasi yang memancing ego dan ambisi dipenuhi dengan emosional kelompok, bahkan perseorangan. Sehingga Demokrasi tersebut hanya menghasilkan saripati Emosional. Dampaknya adalah kutukan zaman yang nantinya akan menambah kerusuhan silih berganti nafsu angkara murka dimana-mana. Manusia akan menjadi gundah merajam jiwa, malu yang tak terobati berbagai fitnah dan intrik dating seakan menghibur dan bermanis muka menyanjung segala puji dari pihak luar, padahal semua itu hanyalah siasat menikam diri Bangsa apabila tidak kita waspadai mulai dari sekarang. Ada baiknya kita kembali pada kultur kita sendiri “Bermusyawarah Untuk Mencapai Mufakat”

Gossip dan rumor menyebar bagai angin membawa berita janji muluk, pangkat, drajat, kedudukan, namun semua hanyalah bualan janji kosong para calon yang ingin KURSI . Padahal jika kita cerna jadi pejabat untuk apa ? bila hanya menanam benih dosa disiram air lupa diri hanya akan berbunga bencana. Dosa dibuat permainan, apa bumi ini milik sang penguasa? Apa sudah melupakan asal usulnya? Lupa pada Yang Maha Esa?
Kini zaman sedang kena musibah, yang dapat dijadikan teladan menimbang yang baik dan keburukan pasti tidak akan pernah kurang. Dan bersiap untuk menerima segala putusan takdir dunia yang makin ruwet ini menurut padangan spiritual, jika masyarakat selalu mengalami gejolak dan mengedepankan keangkaramurkaan, maka alam-pun akan membalas bergejolak. Karena hal ini pengaruh hawa keangkara murkaan manusia yang lupa jatidirinya. Namun bila kita kembali pada jati diri kita, dimana seorang pemimpin yang menurut kultur Jawa memiliki karakter Tutur, Sembur, Uwur maka rakyatpun tidak akan gelisah. Jika Masyarakat tentram maka energi positif yang akan terpancar kembali Bangsa Indonesia, alam-pun akan memanjakan masyarakat kembali menjadi gemah ripah loh jinawi. Seperti yang terjadi sekarang ini kami menilai Bangsa kita sudah kehilangan Buku Sucinya. Yang saya maksut dengan “Buku Suci” disini adalah “Kitab Tanpa Tulis “ inilah yang dinamakan Kasekten. “Kitab Tanpa Tulis yakni getar hati nurani yang lembut, yang merekam suara kebenaran”. Dan kita harus menemukanya kembali “Buku Suci” itu. Dimana ??? yah ….dihati sanubari kita yang paling dalam.
Lalu siapa yang disebut orang sakti? Orang sakti adalah orang yang telah berhasil mengalahkan musuh besarnya, yakni hawa nafsunya sendiri.

Dalam filosofi “ Hamemayu Hayuning Bawono “ terkandung dalam misi Tri Satya Brata : Hamengku Nagara, Hamengku Budi dan Hamengku Buwana, yang artinya Hamengku Nagara karena Tuhan menciptakan Bumi kita hidup di bumi dan beraneka ragam suku, agama, golongan sehingga dibutuhkan satu pemerintahan yang mengatur agar manusia tidak saling silang antar manusianya. Hamengku Bumi sebagai lingkungan alam kita wajib melestarikan karena bumi sebagai sumber alam. Hamengku Buwono, menjadi kewajiban manusia yang lebih luas dalam mengakui, menjaga, dan memelihara seluruh isi alam semesta. Memasuh Malaning Bumi, Mangasah Mingising Budi. Keharmonisan alam lingkungan.

Sifat atau Watak Seorang Pemimpin yang patut kita pilih dan akan menjadi Pemimpin, apabila orang tersebut memiliki sifat atau watak sebagaimana yang terdapat di dalam kitab Wahyu Astha Brata didalam Sarga XXIV dari wejangan Ramayana kepada Gunawan Wibisono, juga Sri Kresno kepada Arjuna dalam “Bhagawat Gitta “ Diterangkan bahwa seorang yang ditakdirkan untuk menjadi pemimpin atau Raja adalah dalam jiwanya terdapat 8 (delapan ) macam sifat alam. Kewajiban seorang Pemimpin harus selalu mencerminkan sifat dan sikap :
Lebih lanjut diterangkan oleh Bunda Lia, bahwa dalam kitab Wahyu Astha Brata menerangkan bahwa seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi pemimpin atau raja di dalam jiwanya telah memiliki 8 (delapan) macam Sifat Alam, Hukum Alam (Sunnatullah) atau 8 (delapan) macam watak-watak Kekuatan Alam, adapun 8 (delapan) watak-watak Alam tersebut adalah:

1. Watak Matahari atau Dewa Surya
Menghisap air dengan sifat panas secara perlahan serta memberi sarana hidup. Pemimpin harus selalu mencerminkan sifat dan sikap semangat kehidupan dan energi untuk mencapai tujuan dengan didasari pikiran yang matang dan teliti serta pertimbangan baik buruknya juga kesabaran dan kehati-hatian.


2. Watak Bulan atau Dewa Chandra
Yang memberi kesenangan dan penerangan dengan sinarnya yang lembut. Seorang pemimpin bertindak halus dengan penuh kasih sayang dengan tidak meninggalkan kedewasaannya.

3. Watak Bintang atau Dewa Yama

Yang indah dan terang sebagai perhiasan dan yang menjadi pedoman dan bertanggung jawab atas keamanan anak buah, wilayah kekuasaannya.

4. Watak Angin atau Dewa Bayu

Yang mengisi tiap ruang kosong. Pemimpin mengetahui dan menanggapi keadaan negeri dan seluruh rakyat secara teliti.

5. Watak Mendung atau Dewa Indra Yang menakutkan (berwibawa) tetapi kemudian memberikan manfaat dan menghidupkan, maka pemimpin harus berwibawa murah hati dan dalam tindakannya bermanfaat bagi anak buahnya.

6. Watak Api atau Dewa Agni

Yang mempunyai sifat tegak, dapat membakar dan membinasakan lawan. Pemimpin harus berani dan tegas serta adil, mempunyai prinsip sendiri, tegak dengan berpijak pada kebenaran dan kesucian hati.

7. Watak Samudra atau Dewa Baruna

Sebagai simbol kekuatan yang mengikat. Pemimpin harus mampu menggunakan kekuatan dan kekuasaannya untuk menjaga keseluruhan dan keutuhan rakyat serta melindungi rakyat dari segala kekuatan lain yang mengganggu ketentraman dan keamanan secara luas dan merata.

8. Watak Bumi atau Watak Kekayaan atau Dewa Kuwera
Yang sentosa, makmur dengan kesucian rohani dan jasmani. Pemimpin harus mampu mengendalikan dirinya karena harus memperhatikan rakyat, yang memerlukan bantuan yang mencerminkan sentosa budi pekertinya dan kejujuran terhadap kenyataan yang ada.

Lebih lanjut disampaikan oleh Bunda Lia, bahwa orang memiliki sifat dan watak 8 (delapan) sifat alam tersebut jumlahnya cukup banyak, karena orang tersebut merupakan perwakilan dari 1000 (seribu) orang, artinya tiap seribu orang yang lahir, akan dilahirkan seorang calon pemimpin diantara mereka, semangkin besar sifat dan watak alam yang melekat pada dirinya, maka semangkin tinggi pula kedudukan yang dapat diraihnya.

08 June 2008

Press Release Juni 2008

Bunda Lia Hermin Putri

Bisnis Anthurium demi tujuan Sosial dan Supranatural sebagai Jembatan bagi Rakin (Rakyat Miskin).

Sebagai Kolektor tanaman hias dan Tokoh Budaya Spiritual. Bunda Lia Supranaturat papan atas sejak beberapa tahun lalu ( 6 Thn ) Bunda Lia Hermin Putri (38 Thn) dari Manding – Sabdodadi- Bantul – Yogyakarta. Telah mengoleksi beberapa jenis tanaman hias dari Aglonema, Euphorbia, Adenium, Sansivera dan terakhir Anthurium. Dan diberi nama Nursery “Songgo Buwono” walaupun keadaan Nursery-nya yang hampir kebanyakan jenis Anthurium dan pasaran boleh dibilang sepi pengunjung, Bunda Lia tidak pernah berputus asa, walaupun bisnis Tanaman hias sepi beliau harus mengingat akan kepedulian beliau dengan masyarakat – rakyat kecil.
Tokoh Supranatural asli lereng gunung Lawu ini bertekad tidak hanya menjalankan bisnis murni, tetapi justru ditekankan pada aspek sosial kemasyarakatannya, untuk membantu kaum lemah.

Terbukti pada Tgl. 6 Juni 08 Bunda Lia bersama anggotanya mengadakan bakti sosial dengan membagi beras kepada 333 orang Rakyat Miskin dengan tiap kepala mendapatkan 10 kg beras dan uang Rp, 25.000,- tiap kepala. Tidak hanya rakyat kecil saja tetapi, orang cacatpun menjadi target utama dan 321 anak yatim pun mendapatkan santunan setiap Tgl. 27 perbulan.

Tanya : Tentang nialainya Bunda Lia menjawab
Jawab : “Semua tergantung kemampuan keuangan kas suka rela kami, jadi tidak mesti nilainya yang kadang banyak, kadang sedikit, tergantung donatur yang datang minta bantuan Spiritual kita dan mengisi kas PEDULI KASIH”

Tanya : Apakah dana itu hanya dari tamu yang datang kerumah Bunda Lia ?
Jawab : Ooo, tidak! Justru yang banyak adalah transfer dari donatur – donatur dari Luar Negri dan Luar Kota yang memiliki hati yang tulus untuk ibadah guna ketukan hati donatur yang mulia hatinya dan memiliki Roso Pangroso, mereka biasa memakai Nomer Rekening GIRO BRI Songgo Buwono dengan Atas Nama Pengembangan dan Pemberdayaan Supranatural Songgo Buwono No. Rekening Giro BRI cabang Katamso Yogyakarta 0245.01.000561.30.1.
Tanya : Apakah mereka itu (donatur) tersebut adalah pasien – pejabat atau bukan?
Jawab : Maaf ini sifatnya adalah rahasia dan mereka yang meminta bantuan pada kamipun harus memegang teguh akan kepercayaan yang meminta, kami anggap tamu kita sebagai Raja.

Tanya : Bunda Lia apakah boleh saya bertanya, tentang sesuatu untuk acara bakti Sosial selanjutnya setelah hari ini?
Jawab : Ya tentu ada karena Tgl. 22 Juli 2008 adalah HUT Songgo Buwono, maka rencana kami akan mengadakan Sunatan Masal bagi anak miskin dan menyantuninya. Do’akan saja semoga kami mendapatkan Donatur yang sadar akan orang dibawah kita. Allah humma, Amin.



05 May 2008

JADI GUBERNUR GAMPANG

Press Release
Bunda Lia Songgo Buwono
Yogyakarta.4 Mei 2008

JADI GUBERNUR GAMPANG
TETAPI SETELAH JADI GUBERNUR MAU APA?

Kami sadar, sebagai insan yang mendalami olah spiritual, rentan sekali menyakiti perasaan orang lain, terkait dengan prediksi dan pemberitaan di media elektronik maupun media cetak. Meski pada dasarnya kami tidak mempunyai niat menyakiti atau menyinggung perasaan seperti itu. Sebab pada dasarnya yang kami sampaikan adalah apa sebenarnya yang sedang terjadi di tengah masyarakat dan rakyat kecil. Hal ini berdasarkan fakta dan kenyataan yang kami lihat kompeten. Namun bagaimanapun manusia tidak akan pernah luput dari kesalahan langkah dalam kehidupan ini.

Kini, marilah kita menapaki sisa usia kehidupan dengan lembaran baru, tentunya dengan semangat, tetap mengendalikan hawa nafsu, agar dapat menggapai kwalitas kehidupan yang lebih baik dari yang sebelumnya, tentunya segala sesuatu jika sudah dikendalikan oleh hawa nafsu tidak akan menghasilkan yang baik dan membawa kita pada kemuliaan hidup, justru kesesatan dan hinaan. Kami keluarga besar Songgo Buwono kenapa berpihak pada Rakyat kecil? Karena mereka yang terkadang menjadi kambing hitam permusuhan alam juga orang besar dan berduit. Contohnya ada seorang yang mencalonkan sebagai Gubernur dan seorang yang mencalonkan sebagai wakil Gubernur, dengan dalih mereka mendapatkan uang dan nafkah dengan asal mendapatkan tanpa memikirkan sebab dan akibatnya menjadi team sukses seorang calon Gubernur contohnya….. Tanpa berpikir panjang terjadi permusuhan dan pertentangan karena hanya ingin menjadikan jago mereka menang dan karena di beri iming-iming kedudukan dan uang. Sehingga tanpa berfikir panjang, perkelaian dan pertumpahan darahpun dilakukan, Masya’ Allah sadarkah mereka bahwa tindakan tersebut tidak benar dan apakah mereka yakin dengan janji-janji mereka? Giliran jago mereka duduk ingatkah pada time suksesnya semasa pemilihan? TIDAK akan ingat bahkan mereka akan melupakan kita dan bisa jadi mereka kelak kalau sudah duduk akan lupa karena sang jago telah menjadi pejabat Wilayah dan merasa menjadi orang besar, itulah watak manusia. kalau sudah begitu orang-orang besar menyalahkan mereka dan menjadikan Rakyat kecil sebagai terdakwa.



Jadi Gubernur memang gampang, sekarang jamannya manusia dapat dibeli dengan uang apa lagi kedudukan akan mudah didapatkan dengan nilai rupiah. Masyarakat kecilpun mendapat imbasnya dan menjadi sasaran sebagai terdakwa dapat diberi iming-iming rupiah dan kedudukan,kalau sudah begitu rakyat hanya menjadi sasaran manfaat orang besar yang ingin mendapatkan kedudukan. Setelah jadi Gubernur misalnya taukah peran dan mau apa Gubernur itu misalnya? Apakah yang diduduki? Tanyakan pada calon untuk siapa dan untuk apa jadi Gubernur ? untuk Rakyat dan Masyarakat atau untuk pribadinya sendiri demi rasa gengsi dan ke- Aku -anya. Apakah mereka dapat menjadikan Pemerintahan bersih? Terutama dari KKN yang semakin merajalela? Dapatkah mereka menyejahterakan Rakyatnya, jangan Cuma janji. Apakah calon sudah memiliki nasehat dan petuah- arahan pada Rakyat untuk kesejahteraan? Apakah calon sudah bersama ditengah masyarakat untuk do’a dan apa do’anya pada Rakyat dan Masyarakat? Lalu apa yang diberikanya pada Masyarakat apakah calon tersebut sudah menunjukkan kepribadianya demi Rakyat?

Pemimpin itu melihat lebih jauh dan lebih dalam dari pada orang lain, Melihat lebih banyak dari pada orang lain, lebih dulu melihat dari pada orang lain, sudahkah calon anda seperti itu? Yang penting dia punya rasa, menghargai orang lain dan menciptakan suasana nyaman pada masyarakat, jadikanlah pemimpin yang bisa ngayomi / ngayemi masyarakat – kawulo alit. Berani tanggung jawab dan ambil oper kesalahan anak buah, sonder berfikir demi keuntungan pribadi. Dudukilah TEKAT.

07 February 2008

Dapatkah Keluarga Cendana Bertahan ?

Press Release
Jogjakarta, 7 Februari 08
Lia Hermin Putri
Pimpinan Sanggar Supranatural
SONGGO BUWONO

Sepeninggal Pak Harto
Dapatkah Keluarga Cendana Bertahan ?






Seperti yang pernah saya katakan pada siaran pers sebelumnya, dimana robohnya Pohon Pule Kramat se akar-akarnya yang berada di Sendang Beji, pesisir Pantai Selatan Gunung Kidul. itu merupakan tengara runtuhnya ‘Dinasti Soeharto’. Terbukti, selang beberapa hari Pak Harto masuk rumah sakit dan wafat. Kini tinggal anak cucu Pak Harto yang berada pada posisi telur di ujung tanduk.
Akankah mereka mampu menyelamatkan diri dari ancaman yang bakal datang dari berbagai lini sepeninggal orang tuanya tersebut ? Hal ini agaknya yang menjadi gunjingan hangat pasca wafatnya Pak Harto.
Dapat saya pastikan, jika Keluarga Candana (anak cucu Pak Harto) tidak tanggap atas tengara alam, jelas mereka akan tergulung habis. Karenanya, keluarga cendana harus lebih jeli dan waskito terhadap tanda-tanda alam.
Sesungguhnya masih ada kekuatan yang bisa dijadikan sebagai andalan untuk menyelamatkan nama besar Cendana. Keluarga tersebut masih memiliki dua tokoh perempuan. Satu diantaranya adalah Halimah. Saya katakan Halimah, karena dia memiliki kharisma yang tinggi. Walau dia hanya seorang menantu, semasa Bu Tin masih hidup, dia sering mendapatkan petuah dan amanat dari mertuanya itu. Boleh dibilang Halimah adalah “pusaka” bagi keluarga cendana. Karenanya, menjadi kesalahan besar jika Keluarga Cendana mencampakkan Halimah.
Sedangkan tokoh yang satunya adalah Siti Hardiyanti Rukmana (Mba Tutut). Dari kasat mata sudah terlihat, kalau Tutut memiliki bakat kepemimpinan dan juga memiliki pengalaman politik yang cukup karena di saat Pak Harto masih hidup dalam usia tua beliau banyak waktunya digunakan untuk memberi petunjuk kepada Mbak Tutut.
Jadi kedua wanita inilah (Halimah yang memiliki dasar kecerdasan spiritual dan Mba Tutut memiliki kecerdasan intelektual) yang bisa diharapkan untuk menyelamatkan keutuhan Keluarga Cendana. Sudah barang tentu kesemuanya ini melalui proses yang tidak mudah.
Untuk membangkitkan nama besar yang kini kian terpuruk memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Perlu perjuangan dan pengorbanan, serta keseriusan yang mendasar. Kekuatan politik dapat dijadikan sebagai salah satu sarana untuk memagari bahkan dapat memulihkan nama besar Keluarga Cendana.
Namun, kekuatan politik yang dibangun, haruslah berpihak kepada rakyat. Dengan kata lain, semampu mungkin kekuatan politik yang dibangun harus berkoridor kepada pengembalian hak-hak rakyat. Saya mengistilahkan koridor ini sebagai “Tali Wangsul”. Dan hal ini harus betul-betul dijalankan oleh Keluarga Cendana untuk menebus janji mendiang Pak Harto yang ingin mensejahterakan Rakyat Indonesia. “Tali Wangsul” harus dilakukan, karena hal itu bermakna kepada kekuatan moral dan spiritual serta membangkitkan kembali aura Cendana yang kian meredup.
Sudah barang tentu dalam melakukan “Politik Tali Wangsul”, Keluarga Cendana harus jeli dalam memilih kawan seperjuangannya, juga harus berani menciptakan lingkungan yang sehat dalam melakukan hal tersebut.
Menurut hemat saya, lengsernya Pak Harto kala itu dikarenakan para kroninya yang memegang prinsip ABS (Asal Bapak Senang). Hal inilah yang kemudian Pak Harto terjerembab ke dalam lingkungan yang tidak sehat. Sehingga Pak Harto tidak mengetahui kondisi yang terjadi sebenarnya, kemudian beliau pun menjadi alat bagi para kroninya. Jelas ini merupakan suatu pelajaran bagi siapapun. Jangan sampai peristiwa semacam ini kembali terulang dalam tata kepemimpinan Bangsa Indonesia.
Allah Maha Pengampun, dan Allah juga Maha pemberi jalan. Karenanya, tak mustahil pula bagi Keluarga Cendana jika mereka ingin menebus apa yang dianggap suatu kesalahan yang pernah dilakukan oleh Soeharto dalam memimpin negeri ini, niscaya Allah akan memberikan jalan yang terbaik bagi mereka. Amin ya Robbal Alamin.

Bencana di tahun 2008 dan Wahyu Semar milik Pak Harto

Masuk kepada tahun 2008, negeri ini masih mengalami bencana alam yang tergolong besar. Bencana kecil maupun besar akan terjadi di bulan Maret – November, kondisi alam masih kurang bersahabat. Hal ini sangatlah wajar, karena jauh sebelumnya manusia kian menzolimi alam tempat dimana dia berpijak.
Sebagai manusia, sebetulnya kita dapat menghalau bencana yang bakal terjadi. Tentunya dengan cara menghargai alam itu sendiri. Dan yang lebih penting, kita harus sering memberi uluk salam kepada Allah yang menciptakan dan berkuasa atas alam-Nya.
Terkadang, kebanyakan orang bertanya-tanya, mengapa di saat ini Indonesia sering mengalami bencana alam, sedangkan di masa pemerintahan Soeharto, bencana alam jarang terjadi. Dalam hal ini saya coba untuk berpendapat, Seperti yang kita kenal, sebagai seorang pemimpin, Pak Harto selalu menjaga dan mengikuti rambu-rambu alam. Beliau masih menjalankan adat dan tradisi nenek moyang. Dimana adat dan tradisi tersebut, jelas-jelas memiliki pesan moral yang sangat luhur serta bermakna ramah lingkungan. Dengan demikian boleh dibilang, Pak Harto sering menyapa alam.
Melihat hal tersebut, agaknya prilaku Pak Harto yang demikian dapat dijadikan sebagai salah satu pelajaran bagi para pemimpin negeri ini. Agar bangsa ini lepas dari cengkeraman bencana, maka dibutuhkan seorang pemimpin yang ramah dan selalu menyapa alam dengan cara melakukan adat dan tradisi nenek moyang yang sudah ada.
Di samping itu, pemimpin harus memiliki karakter Tutur, Sembur, Uwur.
Jika kita melupakan hal tersebut entah bagaimana nasib bangsa ini ke depan….. Allahu Alam.
“Berusahalah ‘Menikahi’ Alam, Maka Akan Beranak Kedamaian” Amin Allahuma Amin.

Wahyu Semar
Ada beberapa fenomena alam yang kita lihat saat mengiringi kepulangan Pak Harto ke kepangkuan-Nya, Gempa berkekuatan 5,7 SR terjadi di wilayah Jogja dan sekitarnya, Hujan lebat yang dibarengi dengan angin kencang di seputar Hastana Giri Bangun dan beberapa fenomena alam lainnya terjadi. Tak dapat dipungkiri bahwa Pak Harto memang merupakan seorang linuwih dan merupakan bagian dari kekuatan alam.
Mengapa demikian ? karena Pak Harto telah berusaha menyatu dengan alam. Di masa hidupnya beliau rajin menjalani laku spiritual. Dengan kekuatan laku beliaulah kemudian Pak Harto memiliki banyak keistimewaan dalam segi ilmu spiritual.
Menurut mitologi masyarakat Jawa, Semar adalah tokoh besar yang memiliki kemampuan untuk mengemban negeri. Dan Suharto telah mendapatkan Wahyu Semar tersebut. Sampai ajal menjemput, Wahyu Semar yang didapat Suharto dari hasil tirakatnya di Gunung Srandil, Jambe Pitu, Cilacap Jawa Tengah itu masih melekat, bahkan ikut bersemayam di makam Hastana Giri Bangun. Wahyu ini tidak akan meninggalkan Suharto sebelum ada orang yang pantas menerimanya.
Anehnya, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan sambutan pada acara pemakaman Pak Harto di Hastana Giribangun, Karanganyar Jawa Tengah, guratan wajah Presiden SBY terkesan mirip dengan wajah Pak Harto. Menurut hemat saya, fenomena yang terjadi pada SBY merupakan gambaran dari nitiknya Wahyu Semar yang dimiliki pak Harto kepada SBY. Namun Wahyu Semar tersebut baru nitik, belum nitis. Yang jelas Wahyu Semar masih belum beranjak dari Suharto. Butuh tabung pelontar / wadah nyata untuk mapannya wahyu tersebut.
Berkaitan dengan hal itu, di antara bulan Maret sampai dengan September saya akan berusaha untuk ‘memerdekakan’ wahyu yang masih bersemayam tadi, dan nantinya akan manjing kepada seseorang yang berhak dan patut menyandangnya.
Beda halnya dengan Tusuk Konde milik Kanjeng Ratu Kidul yang pernah di dapat oleh Bu Tien dari Makam Mbang Lampir, Gunung Kidul, kini telah kembali ke tempat asalnya ke Mbang Lampir. Sebagai catatan, Tusuk Konde tersebut adalah Wahyu Keprabon yang diberkahi oleh Kanjeng Ratu Kidul kepada mereka yang dipilihnya.
Perlu saya sampaikan sekali lagi. Yang berhak menerima Wahyu Semar adalah orang yang memiliki ciri dan kriteria tertentu. Dari ciri tersebut diantaranya adalah kesatria yang memiliki karakter Tutur, Sembur dan Uwur. Dan mereka sangat bertanggung jawab atas kelangsungan kultur serta budaya bangsa ini.

25 January 2008

RELAKAN KEPERGIAN PAK HARTO

RELAKAN KEPERGIAN PAK HARTO
LEPASKAN PERALATAN MEDIS JANGAN TAMBAH SIKSANYA
Ampunilah semua dosa dan ringankanlah cobaan-Nya.


Sudah beberapa minggu hingga kini krisisnya kesehatan Sang Bapak Pembangunan mantan Presiden Suharto benar-benar tersiksa dengan sakit yang dideritanya. Bapak Suharto yang dulu setegar Gunung Merapi kini tergolek tak berdaya. Jasa Pak Harto yang setinggi Gunung hancur karena setitik kesalahan dan kurang Tanggap Sasmita beliau sendiri. Mengapa orang takut menghujat ketika orang kuat Orde Baru ini dipuncak kekuasaanya? Tetapi begitu Pak Harto lengser keprabon orang mencaci dan menistanya. Fitnah pun tak henti-hentinya menyerang pribadi dan keluarga Cendana.

Dalam kondisi yang seperti ini Pak Harto layak kita do’akan agar diberi ketabahan hati. Dan tidak berputus asa dari Rahmad Allah SWT. Kepada keluarga besar Cendana ikhlaskanlah beliau pergi, lihatlah Pak Harto ingin pergi kenapa mesti diberatkan???? Buang semua peralatan medis Istighfar senantiasa berserah diri pada Allah. Allah juga yang kelak menunjukkan keadilan sejati dalam masalah ini. Sabar dan tawakal, kalaupun hanya sebesar zarrah, sumbangsih dan jasa Pak Harto tentu tak luput dari perhitunganNYA. Manusia tak luput dari salah dan dosa baik disengaja maupun tanpa kita sadari. Wahai Dzat sebaik-baik yang bertanggung jawab, dan semulia-mulia Dzat yang memberi, seabaik-baik Dzat yang melepaskan apa yang diharapkan umat manusia. Biarlah Pak Harto pulang dengan tenang, jangan bebani perjalanan beliau dengan ketidak adilan. Mahasuci Allah yang Mahaadil. Bersihkan prahara dibumi tercinta dengan ketajaman pikiran dan kelembutan budi pekerti yang penuh cinta kasih dan maaf.

Sudah cukup berat dan melelahkan beban derita Pak Harto di penghujung usianya, tak perlu ditambah dengan segala hujatan lagi. Tak ada manfaatnya mencari-cari celah kesalahan orang lain. Sudahkah diri ini bersih dari dosa dan noda? Bayangkan saja apa bila kita yang mengalami seperti Pak Harto. Sementara ajal menjelang, betapa sedikitnya bekal yang dibawa menghadapi maut, belum pikiran beliau yang kita baca sesuai mata batin kita saat ini Pak Harto tersiksa oleh pikirannya sendiri yaitu antara pasrah menghadap Sang Pencipta dan rakyat mengejar pertanggungan jawabnya dengan hukum lalu bagaimana keluarga yang ditinggalkan apakah akan tumbang? Belum lagi Pak Harto yang memiliki beberapa ilmu yang sangat kuat dan belum dapat terlepas dari dalam dirinya, ilmu yang diperolehnya sangatlah kuat dan belum ada spiritual sekarang ini yang mampu menjebol atau melemahkan ilmu tersebut karena telah menyatu dalam jiwa dan raga Pak Harto, ilmu pak Harto dipelajari dengan berbagai lelaku, baik itu menepi, tapa kungkum, olah rasa, puasa dan lain-lain. Masih banyak lagi hal yang dilakukan Pak Harto untuk mencari tameng sampai pulau Majeti Cilacap dan daerah Cilacapun didatangi hanya untuk mencari Kasekten, Ilmu. Sampai mendapatkan kembang Wijaya Kusuma di Pulau Majeti yang dipakai pelengkap sebagai ageman beliau.

Ilmu Pak Harto memang luar biasa dan ilmu inipun membuat pertahanan Jabatan yang dipegang juga dapat membalikkan hukum. Walaupun banyak spiritual yang kawan maupun lawan beliau, berusaha merobohkan atau menghilangkan tetap saja tidak ada yang mampu menjebol pertahanan ilmu Batara karang yang dimilikinya. Karena ilmu Batara Karang saat ini tidak ada yang memiliki kecuali Pak Harto.


Ilmu Batara Karang tersebut ilmu yang memiliki karakter Hidup Abadi, orang tersebut tidak dapat mati kecuali telah menemukan kunci dari ilmu tersebut. Dulu sebelum pemilik ilmu tersebut mempelajari telah diikat oleh perjanjian yang sangat membuat merinding bulu roma, karena ilmu itu tidak disukai oleh Allah SWT dan dalam Agama Islam dilarang. Yang menyiksa Pak Harto adalah beberapa ilmu yang belum mampu dihilangkan oleh beliau sendiri maupun spiritual yang diperintahkan untuk menbuang. Jadi masalah ilmu ( ageman ) inilah yang harus diperhatikan. Bukan pusaka, jimat, akik, karena pusaka dan akik adalah sesuatu yang berwujut benda apa bila dipakai berguna bagi pemakai apa bila ditaruh ya tidak ada guna dan manfaatnya, seperti halnya kendaraan kalau kita pakai kita dapat jalan kalau kita berhenti dan kita tidak pakai ya tidak jalan. Jimat barang siji jur dirumat barang yang diisi oleh manusia yang mempunyai do’a dan asma’an , itupun juga sama halnya dengan akik atau pusaka jadi salah besar kalau kita terkecoh dengan benda tersebut. Cukup kita perhatikan ilmu beliau. Sejauh mana peran spiritual yang berada didekat Pak Harto dan keluarga Cendana? Supranatural / adikodrati, harfiah bermakna melampaui atau diatas yang natural, yang kodrati. Maksudnya proses / hukum alam yang berlaku pada ciptaan, ada yang secara jelas – tegas – kasatmata, dapat ditangkap diamati dan dipersepsi semua orang. Sedang ilmu yang dimiliki Pak Harto ini tidak semua orang yang punya ilmu linuwih sekalipun dapat menangkapnya. Hanya pribadi tertentu yang kebetulan diberi kemampuan mengindranya. Kecuali Dzat yang Mahatahu, yang Mahaadil, yang Mahamulia, yang Memuliakan, yang Mengembalikan, yang Dekat, yang Mengetahui, semua yang samar.

Kami kalangan “Supranaturalis”, yang berperan sebagai penyampaian sasmita atau siratan (implikasi) dibalik gejala yang alami atau kodrati. Hanya penyampaian tidaklah lebih. Dalam rangkaian berbagai peristiwa yang kita tangkap melalui sasmita atau isyarat hingga kami melihat Pulung Wahyu Keprabon telah lepas dari lingkup Cendana menyangkut nasib Tokoh Besar Suharto kalau benar penglihatan batin kami, kami garis bawahi kalau benar, yang terjadi bila Pak Harto berakhir perjalananya di dalam bulan Suro ( Muharam ) Januari Tahun ini dan keluarga Cendana melepas salah satu mantunya yang sebenarnya mendapat amanat alam yang memiliki karisma tinggi juga mandat dari Almarhumah Ibu Tien Suharto, sasmita tersebut menggambarkan pertanda akhirnya sejarah Cendana. Kami tidak menyebut kapan sejarah Cendana akan runtuh. Hanya itu yang dapat kami sampaikan, tentang kebenaran Allahu a’lam.

Kasekten untuk kepemimpinan

PREDIKSI MASA DEPAN INDONESIA
MENYINGKAP TAKBIR KEGAIBAN

Kasekten untuk kepemimpinan

Kekuasaan dalam budaya Jawa yang terangkum dalam istilah Kasekten. Contoh apa bila kesaktian Raja masih Jaya, seluruh tatanan kosmin berputar secara teratur mengelilinginya. Tetapi disayangkan Kasekten Raja sekarang telah memudar, alam pun turut terkena dampaknya, keteraturan alam dan masyarakat juga ikut kendor, dampaknya berbagai bencana alam serta gejolak sosial.

Kesaktian penguasa akan tetap berada dalam kejayaannya selama ia mengikuti etika – kekuasaan, dengan menjalankan kekuasaan tersebut demi kepentingan seluruh alam. Namun bila penguasa telah terjangkiti pamrih, kehendak untuk memanfaatkan kekuasaan demi kepentingan sendiri, keluarga atau pihak-pihak tertentu, kesaktianya akan luntur.

Lazimnya para penguasa yang mulai merosot kekuasaannya, ditandai bergolaknya alam dan masyarakat, dan berlindung berbagai simbul dan slogan dari nilai-nilai luhur budaya Bangsa yang menjadi idiom bersama masyarakat. Penyelesaian ini, meski relative dapat meredam gejolak sosial, tidak mampu berbuat banyak terhadap bencana yang bersifat alami.

Apakah yang harus dilakukan jika kutukan zaman datang seperti yang kita alami sekarang ini? Meskipun ia mampu mengungkapkan berbagai kejadian yang mengindikasikan datangnya kutukan zaman, namun tidak memberikan suatu jalan penyelesaian yang konklusif. Maka apakah kita tidak segera Eling, Waspada, dan sabar. Sikap Eling adalah selalu ingat akan jati dirinya adalah mahkluk spiritual, dan mendorong untuk selalu berpegang kepada spiritualitas yang tidak lain adalah inti dirinya yang terdalam. Sikap Waspada mengingatkan dorongan nafsu kearah tepi lingkaran eksistensi selalu ada di setiap sudut kehidupan sehingga kewaspadaan wajib dijaga. Sedang sikap Sabar mendorong manusia untuk menghayati sikap kewaspadaan untuk dapat menanggulangi bahaya nafsu diperlukan pengorbanan, karena kejahatan tidak cukupdengan niat baik. Menyingkap tabir kegaiban suatu tanda gerak jaman yang penuh bahaya – kesusahan bagai utusan TUHAN yang mengabarkan datangnya penderitaan ke bumi. Maratabat Negara tampak tetapi tanpa rupa, rusak tercambik-cambik. Hukum dan aturan diinjak-injak tidak ada lagi teladan yang bijak. Matahari kehidupan bangsa Indonesia seakan hampir padam dunia kini telah penuh bencana. Ditambah tergoleknya Mantan Presiden Soeharto yang sudah sekian hari berbaring di RS Pertamina, ditengok oleh berbagai kalangan baik pejabat, pengusaha, spiritual dan masih ada yang lain yang ingin tau keadaan Bpk. Soeharto. Namun semua yang membesok konon ingin diwarisi Kasekten / Wahyu / sesuatu yang ada pada diri Bapak Soeharto, aneh memang kedengaranya karena yang namanya Wahyu itu tidak perlu di kejar atau diburu kalau memang seseorang dikehendaki oleh Allah dan Alam, wahyu pasti akan datang pada orang tersebut dengan sendirinya.

Telah kita ketaui di Era sekarang ini masyarakat lebih cenderung kepada pola kehidupan modern yang mengedepankan Demokrasi ala barat. Dimana sesungguhnya, Demokrasi kita yang kita jalankan sekarang ini merupakan asupan dari kultur luar. Sesungguhnya Indonesia memiliki pola Demokrasi sendiri yakni dengan pola Musyawarah Untuk Mencapai Mufakat, musyawarah telah tercantum pada Pancasila tetapi dalam beberapa decade setelah lengsernya Pak Harto Pancasila tidak lagi tampak apalagi Budaya kita. Demokrasi yang ada sekarang ini merupakan Demokrasi yang memancing ego dan ambisi dipenuhi dengan emosional kelompok, bahkan perseorangan. Sehingga Demokrasi tersebut hanya menghasilkan sari pati Emosional. Dampaknya adalah kutukan zaman yang nantinya akan menambah kerusuhan silih berganti nafsu angkara murka dimana-mana. Manusia akan menjadi gundah merajam jiwa, malu yang tak terobati berbagai fitnah dan intrik dating seakan menghibur dan bermanis muka menyanjung segala puji dari pihak luar, padahal semua itu hanyalah siasat menikam diri Bangsa apabila tidak kita waspadai mulai dari sekarang. Ada baiknya kita kembali pada kultur kita sendiri “Bermusyawarah Untuk Mencapai Mufakat”

Gossip dan rumor menyebar bagai angina membawa berita janji muluk, pangkat, drajat, kedudukan, namun semua hanyalah bualan janji kosong para calon yang ingin KURSI, padahal jika kita cerna jadi pejabat untuk apa? Bila hanya menanam benih dosa disiram air lupa diri hanya akan berbunga bencana. Kini zaman sedang kena musibah, yang dapat dijadikan teladan menimbang yang baik dan keburukan pasti tidak akan pernah kurang. Dan bersiap untuk menerima sekala putusan takdir dunia yang makin ruwet ini menurut padangan spiritual, jika masyarakat selalu mengalami gejolak dan mengedepankan keangkaramurkaan, maka alam pun akan membalas bergejolak. Karena hal ini pengaruh hawa keangkara murkaan manusia yang lupa jatidirinya. Namun bila kita kembali pada jati diri kita, dimana seorang pemimpin yang menurut kultur Jawa memiliki karakter Tutur, Sembur, Uwur maka rakyatpun tidak akan gelisah. Jika Masyarakat tentram maka energi positif yang akan terpancar kembali Bangsa Indonesia, alam pun akan memanjakan masyarakat kembali menjadi gemah ripah loh jinawi.seperti yang terjadi sekarang ini kami menilai Bangsa kita sudah kehilangan Buku Sucinya. Yang saya maksud dengan “Buku Suci” disini adalah “Kitab Tanpa Tuli” inilah yang dinamakan Kasekten. “Kitab Tanpa Tulis, yakni getar hati nurani yang lembut, yang merekam suara kebenaran”. Dan kita harus menemukanya kembali “Buku Suci” itu. Dimana ??? yah ….dihati sanubari kita yang paling dalam. Lalu siapa yang disebut orang sakti? Orang sakti adalah orang yang telah berhasil mengalahkan musuh besarnya, yakni hawa nafsunya sendiri.

Dalam filosofi “Hamemayu Hayuning Bawono“ terkandung dalam misi Tri Satya Brata : Hamengku Nagara, Hamengku Budi dan Hamengku Buwana, yang artinya Hamengku Nagara karena Tuhan menciptakan Bumi kita hidup dibumi dan beraneka ragam suku, agama, golongan sehingga dibutuhkan satu pemerintahan yang mengatur agar manusia tidak saling silang antar manusianya. Hamengku Bumi sebagai lingkungan alam kita wajib melestarikan karena bumi sebagai sumber alam. Hamengku Buwono, menjadi kewajiban manusia yang lebih luas dalam mengakui, menjaga, dan memelihara seluruh isi alam semesta. Memasuh Malaning Bumi, Mangasah Mingising Budi. Keharmonisan alam lingkungan.

11 January 2008

Press Release Januari 2008

Catatan 9 Januari 2008

Antara Soeharto, Bengawan Solo dan Gunung Merapi
Nasib Pak Harto tergantung 10 hari ke depan





Telah seminggu ini kesehatan mantan presiden Soeharto memburuk. Beliau kembali di rawat di Rumah Sakit Pertamina Pusat Jakarta. Sementara dalam perawatan yang intensif itu, kesehatan Pak Harto mengalami fluktuatip.
Di balik sakitnya mantan orang nomor satu di Indonesia ini banyak menimbulkan reka-reka masyarakat. Mampukah pak Harto bertahan lebih lama lagi ? pertanyaan itu yang kerap timbul dalam benak masyarakat.
Memang menjadi suatu keperihatinan jika sakitnya Pak harto berkepanjangan. Karena hal itu jelas menjadi siksa bagi beliau. Karenanya kami mengimbau kepada segenap masyarakat untuk berdo’a agar apa yang dialami Pak Harto tidak berlarut.
Pada malam 1 Suro, Sanggar Supranatural Songgo Buwono melakukan ritual, di mana dalam ritual tersebut diisi oleh do’a yang berkaitan dengan kondisi Pak Harto. Saat Ritual yang kami lakukan di Pantai Selatan Parangkusumo, Bantul Jagjakarta, kami mendapat tengara, jika dalam 10 hari (terhitung mulai 1 Suro 1941 – 9 Januari 2008- ) Pak Harto dapat bertahan dan kesehatannya kian memulih, maka beliau akan bertahan lebih lama, Namun apabila dalam jangka waktu 10 hari kesehatannya tak kunjung pulih, maka kemungkinan besar dalam bulan Suro ini beliau akan kembali kepangkuan sang kholiq. Bukan Cuma itu, pulung yang kepemimpinan yang selama ini ‘bersarang’ di Cendana telah kembali. Pulung tersebut akan diberikan kepada calon pemimpin bangsa ini yang memiliki sifat “Tutur Sembur Uwur”.
Ini merupakan wangsit kepemimpinan. Dimana pulung tersebut nantinya akan kami jatuhkan pada seseorang, entah pada siapa kami belum mendapat gambaran dalam wangsit dan tengara, apa bila telah mendapat petunjuk Wahyu Keprabon – Kepemimpinan Bangsa Indonesia nantinya akan kami beri tahukan secara terbuka harapan kami tentunya pada salah satu Pemimpin yang berjiwa Satria yang mempunyai watak Berbudi Bowo Laksono dan Tanggap Sasmitho dengan tujuan kami mencari seorang Satria dengan kriteria - berkarakter “Tutur, Sembur, Uwur”
Seperti yang telah kami prediksikan jauh hari sebelumnya, jika Sungai Bengawan Solo Meluap, maka Indonesia akan kehilangan salah seorang tokoh besar negeri ini.
Bengawan Solo telah meluap, kemudian apakah benar bangsa Indonesia akan kehilangan salah seorang tokoh besar yang sangat berpengaruh di negeri ini ? Allahu Alam. Yang jelas Pak Harto kini dalam kondisi sakit yang memperihatinkan.
“Lebih baik kita bersama-sama mendo’akan beliau, agar Tuhan memberikan hal yang terbaik baginya, dan bangsa ini”.
Selain itu, kami juga mendapat tengara, apabila Pak Harto mangkat, maka akan disusul oleh peristiwa alam yang mengiringi kepergian beliau. “Agaknya dalam hal ini akan ditandai dengan bergejolaknya Gunung Merapi.
Di sisi lain, Sebagai seorang pemimpin, tak heran kalau Pak Harto juga memiliki tingkat ilmu kasepuhan yang tinggi. Salah satunya adalah ilmu ajian Batara Karang. Menurut pengamatan saya, ilmu tersebutlah yang membuat dirinya ‘tersiksa’ di penghujuh hari-hari beliau. Hal ini disebabkan karena Pak Harto lupa akan kunci ajian ilmu yang dituntutnya itu, sehingga kesulitan untuk melepaskannya. Sedangkan simpul ilmu tersebut harus segera di lepas agar tidak lagi menyiksanya. Untuk melepas ajian Ilmu Batara Karang, haruslah orang yang memiliki ilmu yang segaris dengan Pak Harto. Dengan kata lain tidak semua orang bisa melepaskan Kunci Simpul ilmu tersebut.
Eyang Marto adalah orang yang memiliki ilmu segaris dengan Pak Harto. Namun kini beliau juga sudah wafat. Pada saat beliau wafat, tanggal 22-11- 1994 Selasa Kliwon dibarengi dengan meletusnya Gunung Merapi. Saya yakin peristiwa meletusnya Gunung Merapi itu bukan sekedar kebetulan saja, namun sangat berkaitan dengan wafatnya Eyang Marto. Begitu juga apa bila Bapak Pembangunan kita Mantan Presiden, Jendral Soeharto jika wafat Gunung Merapi akan bergejolak.
Sebagai buyut, yang sekaligus diwarisi ilmu ajian Batara Karang oleh Eyang Marto, saya merasa turut prihatin dan berkonsekwensi untuk membantu mereka yang memiliki ilmu tersebut. Semoga Allah mengampuninya.
Sebaik-baiknya iman, adalah mereka yang ingin dicintai oleh Tuhannya, Sebaik-baiknya bangsa, adalah mereka yang tak ingkar dengan sejarah bangsanya. Tak bisa dipungkiri, Pak Harto pernah memimpin Bangsa ini selama 32 tahun, dan telah membawa Bangsa ini ke-arah kemajuan. Walau ada keburukan, namun tak sedikit pula hal baik yang telah di perbuat oleh Pak Harto untuk Negeri ini. Itulah Torehan Sejarah Bangsa ini. Dan telah menjadi sejarah manusia pula, dimana mahluk yang paling sempurna di muka bumi ini, tetap tak luput dari salah. “Suharto Juga Manusia”.
Karenanya, sekali lagi saya sampaikan, mari kita berdo’a agar hal baik selalu berpihak kepada kita. Amin – amin ya Robal Alamin.

Lia Hermin Putri
Pimpinan Sanggar Supranatural Songgo Buwono

22 December 2007

Press Release December 2007

Bunda Lia Hermin Putri
Sanggar Supranatural Songgo Buwono

Semua terjadi Karena Karma
Prediksi global 2008

















Agaknya di tahun 2008, bumi pertiwi masih dirundung malang.
Bencana demi bencana masih dialaminya. Selain dampak dari pemanasan global, faktor moralitas juga mendominasi terjadinya petaka.
Berkaitan dengan pemanasan global, masyarakat dunia telah mencapai kesepakatan (walau belum memuaskan), dimana negara maju sepakat akan memberikan kompensasi atas dampak teknologi yang berpengaruh buruk terhadap kondisi alam semesta. Nilai kompensasi yang kurang memadai ini juga akan bertambah sia-sia jika penggunaannya tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Semoga pembahasan Climate Exchange dan Global Warming di Bali beberapa waktu lalu tidak hanya sebatas obrolan di belakang meja. Karena itu merupakan langkah awal pembenahan bagi alam semesta yang telah terluka parah.
Jika dilakukan dengan sungguh-sungguh-pun, upaya penyelamatan lingkungan itu jelas tidak bisa dinikmati dalam waktu dekat, perlu proses panjang untuk mengembalikan kesetabilan alam. Ini berarti, masih besar peluang bencana yang bakal terjadi dalam kurun waktu 1 sampai 5 tahun kedepan.

Seperti yang bakal terjadi di wilayah Jakarta (terutama di daerah yang dekat dengan pantai), air laut akan melumat daerah tersebut. Keganasan Air laut bahkan melebihi banjir yang biasanya disebabkan oleh derasnya curah hujan. Dorongan air laut akan menjorok luas ke daratan. Banjir bandang dimana-mana gunung meletus tidak dinyana-nyana, tidak ada isyarat dahulu. Sungguh zaman sedang gonjang-ganjing.
Banyak hujan turun salah musim.
Sementara di Bengkulu, kekuatan air laut bukan hanya akan membanjiri wilayah pesisir di daerah itu. Potensi Tsunami sangat besar. Hal ini disebabkan oleh gerakan lempengan bumi di dasar laut, ditambah dengan kuatnya hembusan angin yang berasal dari Samudera Hindia.
Sedangkan Padang akan mendapat jatah gempa yang dahsyat. Bukit barisan bak naga menggeliat menggoncang Sumatera bagian barat.
Banyak peristiwa alam akan terjadi di luar dugaan. Beberapa gunung di Tanah Jawa, Sumatera dan Kalimantan yang semula dianggap tidak aktif, justru akan “mencuri perhatian”,. Di samping tanah longsor akibat derasnya hujan yang mengguyur hutan gundul di sekeliling gunung, gunung-gunung tersebut pun akan menunjukkan keaktifannya. Dapur gunung yang telah lama mati (tidak aktif) bakal aktif kembali.
Singkatnya, hujan air mata bakal membanjiri pertiwi.

Banyak laknat banyak pengkhianat, anak berani pada orang tua, saudara saling membunuh, guru saling bersateru dan adu kekuatan, dimana-mana banyak yang melampiaskan amarah. Harta akan menjadi penyebab, pangkat akan menjadi pemikat, yang wenang akan menjadi sewenang-wenang dan merasa paling hebat, yang kalah dan mengalah semua merasa bersalah. Yang berhati suci dibenci yang jahat penjilat malah mendapat pangkat yang mencuri hanya duduk dan dapat upeti.

Memecah belah Islam
Lepas dari bencana alam, tingkat moralitas yang rendah juga akan menyeret bangsa ini ke sisi yang gelap. Wilayah Indonesia Bagian Timur akan digerogoti dengan gejolak masyarakat yang kian dahsat. Demo besar-besaran bakal terjadi di wilayah itu. Demonstrasi terjadi dikarenakan kekuatan isu politik yang dihembuskan pihak ketiga yang sengaja ingin menciptakan suasana keruh di Indonesia Bagian Timur.
Yang lebih mengerikan lagi, Agama masih dijadikan komoditi unggulan pihak ketiga dalam upaya memecah belah bangsa ini. Kali ini upaya pemecah-belahan Agama Islam gencar dilakukan. Gerakan-gerakan tersebut mendiaspora di mana-mana. 73 golongan akan ‘diadu’ dan ke-egoisan-nya dipancing mengakui bahwa golongannya adalah aliran yang benar dan terbaik. Kemudian mereka menuding kelompok lain sebagai aliran sesat.
Berkaitan dengan hal tersebut, saya berpendapat, Islam yang benar adalah Islam yang tidak mau di pecah belahkan. Jangan terpancing atas isu pemecah belahan tersebut. Kendalikan emosi serta hilangkan sifat ego kelompok atau golongan.
Jelas, permasalahan ini berkait erat dengan tingkat keimanan kita kepada sang khalik. Apapun golongan atau alirannya, Islam telah memiliki aqidah baku dan berinti kepada cinta kasih kepada sesama, serta mengakui akan ke-Esaan Nya. Carilah seorang pemimpin yang dapat menjadi panutan yang dapat menjadi Iman yang baik,
Ing ngarso sung tulodho ( pimpinan yang di depan memberi contoh ) Ing madyo mangun karso ( yang ditengah membangun semangat ) Tut wuri handayani ( dibelakang memberi dukungan )

Hukum dan Karma
Beda halnya dengan isu kedaerahan serta pemecah-belahan Islam, lembaga hukum di Indonesia justeru ‘memilih jalan gelap’ dimana para penegak hukum semakin melemah dalam menyangga hukum yang berlaku.
Saya menitik beratkan kepada Mahkamah Agung. Lembaga hukum tertinggi ini bakal mendapat cobaan yang demikian berat. Disamping ancaman dari luar, tingkat kolusi yang tinggi juga akan mempengaruhi jejegnya naluri keadilan bagi para pelaku hukum di lembaga tersebut.
Saya yakin, mereka yang sekarang duduk dan memiliki kedudukan adalah orang-orang terpilih dan pinilih yang betul-betul paham dengan tugas dan kewajiban yang diembannya. Tapi saya masih meragukan, apakah mereka benar-benar teguh dalam pendiriannya jika terjadi ancaman atau mungkin sogokan yang akan diberikan kepadanya. Allahu alam.... Kelak tampak dari mata batin kita yang duduk akan ketahuan tidak menepati janji dan akan kehilangan kekuasaan dan kewibawaannya, banyak pangkat dan kedudukan lepas tanpa sebab.


Ingat....... lemahnya peradilan bukan merupakan siksaan dari Tuhan, melainkan lemahnya manusia atas tanggung jawabnya sebagai mahluk sosial yang bergantung kepada hukum. Garong makin merongrong, rampok makin merajalela, pengayom memfitnah yang diasuh, penjaga mencuri yang dijaga, penjamin malah minta dijamin, karena menjadi korban orang jahat dan jahil, orang kecilpun semakin terkucil.
Tidak hanya para petinggi, atau praktisi hukum saja yang berperan untuk menegakkan hukum di negeri ini. Semua lapisan masyarakat harus tunduk kepada hukum. Jika tidak, maka dia akan terhukum. Banyak janji yang diingkari, banyak orang melanggar sumpahnya sendiri, manusia senang menipu tidak melaksanakan hukum ALLAH barang jahat dipuja dan dimenangkan, barang suci dibenci dan dihakimi tanpa peduli membawa ke jeruji.
Telah kita ketahui, di Indonesia di mana negara ini adalah negara hukum yang berdasarkan atas Ketuhanan yang Mahe Esa. Hukum yang dibuat jelas berlandaskan atas ketuhanan, bukan kekuasaan. Jadi hukum positip yang di buat oleh manusia tadi merupakan implementasi dari hukum Tuhan.
Dengan kata lain, jika kita tidak mengindahkan hukum positip, atau memutar balikkan hukum positif, berarti kita telah meremehkan Hukum Tuhan. Manusia sudah lupa dengan asal-usulnya.
Sering kali kita dengar peristiwa ‘permainan hukum’ terjadi di negeri ini. Maka tak heran jika bencana terus melanda negeri ini. Tuhan murka, karena manusia tak taat lagi terhadap norma / hukum yang mengaturnya.

Banyaknya penyelewengan hukum akhirnya menjadi karma buruk bagi bangsa ini. Kini tinggal kita menerima karma tersebut. Masya Allah..... jangan sampai keliru dengan pemimpin-pemimpin palsu yang menyamar.
Namun, masih ada sisa waktu kita untuk merenung dan mencari jalan pulang untuk kembali kepada-Nya. Saya lebih cenderung, agar kita segera kembali kepada fitrah kita sebagai manusia, mahluk sempurna yang berkewajiban melindungi dan menjaga apa yang telah diberikan-Nya kepada kita. Allah maha segalanya. Dan akan segera muncul di tahun 2011 seorang tokoh pilihan yang sudah digembleng dari gunung bagian timur Jawa guna berbekal kekuatan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Seorang tokoh itu yang dapat membelah pulau Jawa ( Bumi Pertiwi ) ini menjadi dua. Maaf bukan berarti tanah jawa akan terbelah dua tetapi terpisah oleh dua golongan yaitu Jahat dan Lurus. Yang luruslah yang dipimpin, rakyat bersatu padu dalam hukum yang adil jujur dan bijaksana memutuskan perkara ( inilah saat yang disebut Ratu Adil) rakyat bersuka ria karena keadilan dari YME akan muncul Seorang Pemimpin baru.

Foto-foto Bakti Sosial Songgo Buwono